Money

Bahlil Akan Tetap Memangkas Produksi Batu Bara untuk Naikkan Harga

Kalau produksinya banyak, permintaannya sedikit, harganya murah. Ya buat saja keseimbangan berapa konsumsi, itu yang diproduksi

Jakarta (KABARIN) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tetap akan memangkas produksi batu bara demi menjaga harga di pasar internasional. Langkah ini diambil karena Indonesia punya peran besar sebagai pemasok batu bara dunia, dengan kontribusi sekitar 43–45 persen dari total perdagangan global.

“Kalau kita produksinya banyak (tapi) permintaannya sedikit, (maka) harganya murah. Ya, kami buat saja keseimbangan berapa konsumsi, itu yang diproduksi,” ujar Bahlil dalam acara Strategi Swasembada Energi 2026: Hilirisasi, Transisi dan Investasi, yang digelar di Jakarta, Kamis.

Menurut Bahlil, harga batu bara Indonesia sangat dipengaruhi oleh konsumsi negara lain. Pasalnya, meski Indonesia menjadi pemasok utama di pasar global, penentuan harga tidak sepenuhnya berada di tangan Indonesia.

Ia memaparkan bahwa total konsumsi batu bara dunia mencapai 8,9 miliar ton, sementara volume yang diperdagangkan secara internasional hanya sekitar 1,3 miliar ton.

“Indonesia menyuplai batu bara keluar negeri 560 juta ton. Tapi, harganya bukan kita yang kendalikan, ini kan abuleke (tukang tipu) namanya,” ucap Bahlil.

Di sisi lain, harga batu bara Indonesia saat ini sedang menunjukkan tren penurunan. Hal itu terlihat dari Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang turun dibandingkan tahun lalu. HBA periode I Februari 2026 tercatat sebesar 106,11 dolar AS per ton, lebih rendah dibandingkan HBA Februari 2025 yang mencapai 124,24 dolar AS per ton.

Terkait permintaan asosiasi pertambangan agar pemerintah meninjau ulang kebijakan pembatasan produksi batu bara dan nikel pada 2026, Bahlil menegaskan pentingnya menjaga sumber daya alam yang tidak terbarukan untuk generasi mendatang.

“Masalahnya, pengusaha-pengusaha kita, teman-teman saya ini, sudah terlalu terbiasa dengan produksi banyak terus. Saya katakan, Bos, negara ini bukan milik kita saja. Ada anak cucu kita,” ucap Bahlil.

Bahlil juga menilai, jika batu bara maupun nikel belum laku dengan harga yang baik, sebaiknya produksi tidak digenjot secara masif. Menurut dia, cadangan tambang yang belum diekstraksi masih bisa “ditabung” untuk generasi berikutnya.

“Suatu saat kita meninggal, mereka ini yang melanjutkan perjuangan negara ini. Jangan di saat mereka memimpin, barang sudah habis karena kelakuan kita. Sudah begitu, dijual murah lagi,” kata Bahlil.

Sebelumnya, Asosiasi Pertambangan Indonesia (API–IMA) meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan kuota produksi batu bara dan nikel untuk 2026. Mereka berharap pemerintah menaikkan kuota produksi kedua komoditas tersebut.

Untuk 2026, kuota produksi batu bara ditetapkan sekitar 600 juta ton, atau turun sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Sementara itu, kuota produksi bijih nikel juga dipangkas menjadi 250–260 juta ton dari RKAB 2025 sebesar 379 juta ton.

Kebijakan ini menunjukkan pemerintah masih memilih jalan menahan laju produksi demi menjaga harga komoditas sekaligus mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya alam di masa depan.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: